Jumat, 18 Maret 2016

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN KEJANG DEMAM



A.    PENGERTIAN
Kejang merupakan perubahan fungsi otak mendadak dan sementara sebagai akibat dari aktivitas neuronal yang abnormal dan pelepasan listrik serebral yang berlebihan (betz & Sowden, 2002)
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rectal diatas 38oc) yang disebabkan oleh suatu proses ekstracranial (mansjoer, 2000).
Kejang demam sering juga disebut kejang demam tonik-klonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia yang timbul mendadak pada infeksi bakteri atau virus. (Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson, 1995).
Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat sementara (Hudak and Gallo,1996).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena peningkatan suhu tubuh yaitu 380 C yang sering di jumpai pada usia anak dibawah lima tahun.

B.    ETIOLOGI
Menurut Mansjoer, dkk (2000: 434) Lumban Tobing (1995: 18-19) dan Whaley and Wong (1995: 1929)
1.      Demam itu sendiri.
Demam yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis, dan infeksi saluran kemih, kejang tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi.
2.      Efek produk toksik daripada mikroorganisme.
3.      Respon alergik atau keadaan umum yang abnormal oleh infeksi.
4.      Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit.
5.      Ensefalitis viral (radang otak akibat virus) yang ringan, yang tidak diketahui atau enselofati toksik sepintas.
Menurut staf pengajar ilmu kesehatan anak FKUI (1985: 50), faktor presipitasi kejang demam: cenderung timbul 24 jam pertama pada waktu sakit demam atau dimana demam mendadak tinggi karena infeksi pernafasan bagian atas. Demam lebih sering disebabkan oleh virus daripada bakterial.

C.    KLASIFIKASI KEJANG
Kejang yang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus badan dan tungkai dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu : kejang, klonik, kejang tonik dan kejang mioklonik.
  1. Kejang Tonik
Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan rendah dengan masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi dengan komplikasi prenatal berat. Bentuk klinis kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai deserebrasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik yang menyerupai deserebrasi harus di bedakan dengan sikap epistotonus yang disebabkan oleh rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau kernikterus
  1. Kejang Klonik
Kejang Klonik dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan pemulaan fokal dan multifokal yang berpindah-pindah. Bentuk klinis kejang klonik fokal berlangsung 1 – 3 detik, terlokalisasi dengan baik, tidak disertai gangguan kesadaran dan biasanya tidak diikuti oleh fase tonik. Bentuk kejang ini dapat disebabkan oleh kontusio cerebri akibat trauma fokal pada bayi besar dan cukup bulan atau oleh ensepalopati metabolik.
  1. Kejang Mioklonik
Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau keempat anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat. Gerakan tersebut menyerupai reflek moro. Kejang ini merupakan pertanda kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan hebat. Gambaran EEG pada kejang mioklonik pada bayi tidak spesifik.

D.    PATHWAY


E.     PATOFISIOLOGI
Peningkatan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu singkat terjadi difusi ion kalium dan natrium melalui membran tersebut dengan akibat teerjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmiter dan terjadi kejang. Kejang demam yang terjadi singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa.
Tetapi kejang yang berlangsung lama ( lebih dari 15 menit ) biasanya disertai apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat yang disebabkan oleh metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin meningkat yang disebabkan oleh makin meningkatnya aktivitas otot, dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat.
Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang mngakibatkan kerusakan sel neuron otak. Kerusakan pada daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama dapat menjadi matang dikemudian hari sehingga terjadi serangan epilepsi spontan, karena itu kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis diotak hingga terjadi epilepsi.

F.     MANIFESTASI KLINIK
1.     Kejang parsial ( fokal, lokal )
a.      Kejang parsial sederhana :
Kesadaran tidak terganggu, dapat mencakup satu atau lebih hal berikut ini :
1).    Tanda – tanda motoris, kedutan pada wajah, atau salah satu sisi tubuh; umumnya gerakan setipa kejang sama.
2).    Tanda atau gejala otonomik: muntah, berkeringat, muka merah, dilatasi pupil.
3).    Gejala somatosensoris atau sensoris khusus : mendengar musik, merasa seakan ajtuh dari udara, parestesia.
4).    Gejala psikis : dejavu, rasa takut, visi panoramik.
b.      Kejang parsial kompleks
1).    Terdapat gangguankesadaran, walaupun pada awalnya sebagai kejang parsial simpleks
2).    Dapat mencakup otomatisme atau gerakan otomatik : mengecap – ngecapkan bibir,mengunyah, gerakan menongkel yang berulang – ulang pada tangan dan gerakan tangan lainnya.
3).    Dapat tanpa otomatisme : tatapan terpaku
2.     Kejang umum ( konvulsi atau non konvulsi )
a.      Kejang absens
1).    Gangguan kewaspadaan dan responsivitas.
2).    Ditandai dengan tatapan terpaku yang umumnya berlangsung kurang dari 15 detik.
3).    Awitan dan akhiran cepat, setelah itu kempali waspada dan konsentrasi penuh.
b.      Kejang mioklonik
1).    Kedutan – kedutan involunter pada otot atau sekelompok otot yang terjadi secara mendadak.
2).    Sering terlihat pada orang sehat selaam tidur tetapi bila patologik berupa kedutan keduatn sinkron dari bahu, leher, lengan atas dan kaki.
3).    Umumnya berlangsung kurang dari 5 detik dan terjadi dalam kelompok
4).    Kehilangan kesadaran hanya sesaat.
c.      Kejang tonik klonik
1).    Diawali dengan kehilangan kesadaran dan saat tonik, kaku umum pada otot ekstremitas, batang tubuh dan wajah yang berlangsung kurang dari 1 menit
2).    Dapat disertai hilangnya kontrol usus dan kandung kemih
3).    Saat tonik diikuti klonik pada ekstrenitas atas dan bawah.
4).    Letargi, konvulsi, dan tidur dalam fase postictal
d.     Kejang atonik
1).    Hilngnya tonus secara mendadak sehingga dapat menyebabkan kelopak mata turun, kepala menunduk,atau jatuh ke tanah.
2).    Singkat dan terjadi tanpa peringatan.

G.    KOMPLIKASI
1.     Aspirasi
2.     Asfiksia
3.     Retardasi mental

H.    UJI LABORATORIUM DAN DIAGNOSTIK
1.     Elektroensefalogram ( EEG ) : dipakai unutk membantu menetapkan jenis dan fokus dari kejang.
2.     Pemindaian CT : menggunakan kajian sinar X yang lebih sensitif dri biasanya untuk mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan.
3.     Magneti resonance imaging ( MRI ) : menghasilkan bayangan dengan menggunakan lapanganmagnetik dan gelombang radio, berguna untuk memperlihatkan daerah – daerah otak yang itdak jelas terliht bila menggunakan pemindaian CT
4.     Pemindaian positron emission tomography ( PET ) : untuk mengevaluasi kejang yang membandel dan membantu menetapkan lokasi lesi, perubahan metabolik atau alirann darah dalam otak
5.     Uji laboratorium
a.       Pungsi lumbal : menganalisis cairan serebrovaskuler
b.      Hitung darah lengkap : mengevaluasi trombosit dan hematokrit
c.       Panel elektrolit
d.      Skrining toksik dari serum dan urin
e.       GDA
f.       Kadar kalsium darah
g.      Kadar natrium darah
h.      Kadar magnesium darah

I.       PENATALAKSANAAN MEDIS
1.     Memberantas kejang Secepat mungkin
Diberikan antikonvulsan secara intravena jika klien masih dalam keadaan kejang, ditunggu selama 15 menit, bila masih terdapat kejang diulangi suntikan kedua dengan dosis yang sama juga secara intravena. Setelah 15 menit suntikan ke 2 masih kejang diberikan suntikan ke 3 dengan dosis yang sama tetapi melalui intramuskuler, diharapkan kejang akan berhenti. Bila belum juga berhenti dapat diberikan fenobarbital atau paraldehid 4 % secara intravena.
2.     Pengobatan penunjang
Sebelum memberantas kejang tidak boleh Dilupakan perlunya pengobatan penunjang.
a.       Semua pakaian ketat dibuka
b.      Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung
c.       Usahakan agar jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan oksigen, bila perlu dilakukan intubasi atau trakeostomi.
d.      Penhisapan lendir harus dilakukan secara tertur dan diberikan oksigen.
3.     Pengobatan rumat
a.       Profilaksis intermiten
Untuk mencegah kejang berulang, diberikan obat campuran anti konvulsan dan antipietika. Profilaksis ini diberikan  sampai kemungkinan sangat kecil anak mendapat kejang demam sederhana yaitu kira - kira sampai anak umur 4 tahun.
b.      Profilaksis jangka panjang
Diberikan pada keadaan
1).    Epilepsi yang diprovokasi oleh demam
2).    Kejang demam yang mempunyai ciri :
a).    Terdapat gangguan perkembangan saraf seperti serebral palsi, retardasi perkembangan dan mikrosefali
b).    Bila kejang berlangsung lebih dari 15 menit, berdifat fokal atau diikiuti kelainan saraf yang sementara atau menetap
c).    Riwayat kejang tanpa demam yang bersifat genetik
d).   Kejang demam pada bayi berumur dibawah usia 1 bulan
4.     Mencari dan mengobati penyebab

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN KEJANG DEMAM
A.    Pengkajian
Pengkajian neurologik :
1.     Tanda – tanda vital
a.       Suhu
b.      Pernapasan
c.       Denyut jantung
d.      Tekanan darah
e.       Tekanan nadi
2.     Hasil pemeriksaan kepala
a.       Fontanel : menonjol, rata, cekung
b.      Lingkar kepala : dibawah 2 tahun
c.       Bentuk Umum
3.     Reaksi pupil
a.       Ukuran
b.      Reaksi terhadap cahaya
c.       Kesamaan respon
4.     Tingkat kesadaran
a.       Kewaspadaan : respon terhadap panggilan
b.      Iritabilitas
c.       Letargi dan rasa mengantuk
d.      Orientasi terhadap diri sendiri dan orang lain
5.     Afek
a.       Alam perasaan
b.      Labilitas
6.     Aktivitas kejang
a.       Jenis
b.      Lamanya
7.     Fungsi sensoris
a.       Reaksi terhadap nyeri
b.      Reaksi terhadap suhu
8.     Refleks
a.       Refleks tendo superfisial
b.      Reflek patologi
9.     Kemampuan intelektual
a.       Kemampuan menulis dan menggambar
b.      Kemampuan membaca

B.    Diagnosa keperawatan
1.     Resiko tinggi cidera
2.     Gangguan citra tubuh
3.     Resiko tinggi koping keluarga dan koping individu tidak efektif

C.    Intervensi keperawatan
1.     Kejang
a.       Lindungi anak dari cidera
b.      Jangan mencoba untuk merestrain anak
c.       Jika anak berdiri atau duduk sehingga terdapat kemungkinan jatuh, turunkan anak tersebut agar tidak jatuh
d.      Jangan memasukan benda apapun kedalam mulut anak
e.       Longgarkan pakaiannya jika ketat
f.       Cegah anak agar tidak trpukul benda tajam, lapisi setiap benda yang mungkin terbentur dengan anak dan singkirkan semua benda tajam dari daerah tersebut
g.      Miringkan badan anak untuk mem fasilitasi bersihan jalan nafas dari sekret
2.     Lakukan observasi secara teliti dan catat aktiitas kejang untuk membantu diagnosis atau pengkajian respon pengobatan
a.       Waktu awitan dan kejadian pemicu
b.      Aura
c.       Jenis kejang
d.      Lamanya kejang
e.       Intervensi selama kejang
f.       Tanda tanda vital


DAFTAR PUSTAKA

Betz Cecily L, Sowden Linda A. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC.
Sacharin Rosa M. (1996). Prinsip Keperawatan Pediatrik. Alih bahasa : Maulanny R.F. Jakarta : EGC.
Arjatmo T.(2001). Keadaan Gawat Yang Mengancam Jiwa. Jakarta : gaya baru
Nurarif, Amin & Hardhi, 2013, Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA NIC-NOC Jilid 2, Yokyakarta : Media Action Publising
Hidayat, Aziz Alimul A, 2006, Keterampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan, Jakarta: Salemba Medika
Hidayat, Aziz Alimul A, 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1, Jakarta : Salemba Medika
Judha, Mohammad, 2011, Sistem Persyarafan (Dalam Asuhan Keperawatan), Yogyakarta : Gosyen Publishing
Kusyati, Eni, 2006, Keterampilan dan Prosedur Laboratorium Keperawatan Dasar, Jakarta : EGC
Muscari, Mary E, 2005, Panduan Belajar Keperawatan Pediatrik, Jakarta : EGC
Ngastiyah, 2005, Perawatan Anak Sakit, Ed 2, Jakarta : EGC
Nursalam, 2005, Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak (Untuk Perawat dan Bidan), Jakarta : Salemba Medika
IDAI, 2008, Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis, Edisi krdua, Jakarta : Badan penerbit IDAI
Purtri, Triloka dan Baidul  Hasniah, 2009, Menjadi Dokter Pribadi bagi Anak Kita,Yogyakarta : Katahati
Meadeow, Sir roy dan Simon J Newell, 2005, Lecture Notes: Pediatrica, Jakarta : Erlangga
Krisanty, Paula dkk, 2009, Asuhan Keperawatan Gawat Darurat, Jakarta : TIM
Riyadi, Sujono & Sukarmin, 2013, Asuhan Keperawatan Pada Anak, Yogyakarta : Graha Ilmu
Soetjiningsih,IG. N. Gde Ranuh, 2013, Tumbuh Kembang Anak, Ed 2, Jakarta : EGC
Adriana, Dian, 2011, Tumbuh Kembang dan Terapi Bermain pada Anak, Jakarta : Salemba Medika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar