Rabu, 30 Maret 2016

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PENYAKIT VERTIGO



A.    PENGERTIAN
Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar. Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja, melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala somatik (nistagmus, unstable), otonomik (pucat, peluh dingin, mual, muntah) dan pusing (Tarwoto, dkk. 2007)
Vertigo adalah perasaan yang abnormal, mengenai adanya gerakan penderita sekitarnya atau sekitarnya terhadap penderita; tiba-tiba semuanya serasa berputar atau bergerak naik turun dihadapannya. Keadaan ini sering disusul dengan muntah-muntah, bekringat, dan kolaps. Tetapi tidak pernah kehilangan kesadaran. Sering kali disertai gejala-gejala penyakit telinga lainnya (Manjoer, Arif, dkk. 2002)
Vertigo juga dapat terjadi pada berbagai kondisi, termasuk kelainan batang otak yang serius, misalnya skelerosis multiple, infark, dan tumor (Muttaqin, Arif. 2008).
Vertigo adalah gejala klasik yang dialami ketika terjadi disfungsi yang cukup cepat dan asimetris system vestibuler perifer (telinga dalam), (Smeltzer & Bare, 2002).
Vertigo adalah sensasi berputar atau berpusing yang merupakan suatu gejala, penderita merasakan benda-benda di sekitarnya bergerak-gerak memutar atau bergerak naik-turun karena gangguan pada sistem keseimbangan (Sherwood, 2001).

B.     ETIOLOGI
Menurut Tarwoto, dkk. (2007) yaitu :
1.      Lesi vestibular
a.       Fisiologik
b.      Labirinitis
c.       Menière
d.      Obat ; misalnya quinine, salisilat.
e.       Otitis media
f.       “Motion sickness”
2.      Lesi saraf vestibularis
a.       Neuroma akustik
b.      Obat ; misalnya streptomycin
c.       Neuronitis vestibular
3.      Lesi batang otak, serebelum atau lobus temporal
a.       Infark atau perdarahan pons
b.      Insufisiensi vertebro-basilar
c.       Migraine arteri basilaris
d.      Sklerosi diseminata
e.       Tumor
f.       Siringobulbia
g.      Epilepsy lobus temporal
4.      Penyakit Sistem Vestibuler Perifer :
a.       Telinga bagian luar : serumen, benda asing.
b.      Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani, otitis media purulenta akuta, otitis media dengan efusi, labirintitis, kolesteatoma, rudapaksa dengan perdarahan.
c.       Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika, trauma, serangan vaskular, alergi, hidrops labirin (morbus Meniere ), mabuk gerakan, vertigo postural.
d.      Nervus VIII. : infeksi, trauma, tumor.
e.       Vestibularis: infeksi, trauma, perdarahan, trombosis arteria serebeli posterior inferior, tumor, sklerosis multipleks.
5.      Penyakit SSP :
a.       Hipoksia Iskemia otak. : Hipertensi kronis, arterios-klerosis, anemia, hipertensi kardiovaskular, fibrilasi atrium paroksismal, stenosis dan insufisiensi aorta, sindrom sinus karotis, sinkop, hipotensi ortostatik, blok jantung.
b.      Infeksi : meningitis, ensefalitis, abses, lues.
c.       Trauma kepala/ labirin.
d.      Tumor.
e.       Migren.
f.       Epilepsi.
6.      Kelainan endokrin: hipotiroid, hipoglikemi, hipoparatiroid, tumor medula adrenal, keadaan menstruasi-hamil-menopause.
7.      Kelainan psikiatrik: depresi, neurosa cemas, sindrom hiperventilasi, fobia.
8.      Kelainan mata: kelainan proprioseptik.

C.     KLASIFIKASI VERTIGO
Berdasarkan gejala klinisnya, vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok :
1.      Vertigo paroksismal. Yaitu vertigo yang serangannya datang mendadak, berlangsung beberapa menit atau hari, kemudian menghilang sempurna; tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. Di antara serangan, penderita sama sekali bebas keluhan. Vertigo jenis ini dibedakan menjadi :
a.       Yang disertai keluhan telinga : Termasuk kelompok ini adalah : Morbus Meniere, Arakhnoiditis pontoserebelaris, Sindrom Lermoyes, Sindrom Cogan, tumor fossa cranii posterior, kelainan gigi/ odontogen.
b.      Yang tanpa disertai keluhan telinga; termasuk di sini adalah : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris, Epilepsi, Migren ekuivalen, Vertigo pada anak (Vertigo de L'enfance), Labirin picu (trigger labyrinth).
c.       Yang timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi, termasuk di sini adalah : Vertigo posisional paroksismal laten, Vertigo posisional paroksismal benigna.
2.      Vertigo kronis. Yaitu vertigo yang menetap, keluhannya konstan tanpa serangan akut, dibedakan menjadi:
a.       Yang disertai keluhan telinga : Otitis media kronika, meningitis Tb, labirintitis kronis, Lues serebri, lesi labirin akibat bahan ototoksik, tumor serebelopontin.
b.      Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri, ensefalitis pontis, sindrom pasca komosio, pelagra, siringobulbi, hipoglikemi, sklerosis multipel, kelainan okuler, intoksikasi obat, kelainan psikis, kelainan kardiovaskuler, kelainan endokrin.
c.       Vertigo yang dipengaruhi posisi : Hipotensi ortostatik, Vertigo servikalis.
3.      Vertigo yang serangannya mendadak / akut kemudian berangsur-angsur mengurang, dibedakan menjadi :
a.       Disertai keluhan telinga : Trauma labirin, herpes zoster otikus, labirintitis akuta, perdarahan labirin, neuritis n.VIII, cedera pada auditiva interna/arteria vestibulokoklearis.
b.      Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis, sindrom arteria vestibularis anterior, ensefalitis vestibularis, vertigo epidemika, sklerosis multipleks, hematobulbi, sumbatan arteria serebeli inferior posterior.
4.      Ada pula yang membagi vertigo menjadi :
a.       Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler.
b.      Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik dan visual.

D.    TANDA DAN GEJALA
Perasaan berputar yang kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan reak dan lembab yaitu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih lengket, nadi lemah, puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dengan selaput tipis.

E.     PATHWAY

F.      PATOFISIOLOGI
Vertigo timbul jika terdapat ketidakcocokan informasi aferen yang disampaikan ke pusat kesadaran. Susunan aferen yang terpenting dalam sistem ini adalah susunan vestibuler atau keseimbangan, yang secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. Susunan lain yang berperan ialah sistem optik dan pro-prioseptik, jaras-jaras yang menghubungkan nuklei vestibularis dengan nuklei N. III, IV dan VI, susunan vestibuloretikularis, dan vestibulospinalis.
Informasi yang berguna untuk keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler, visual, dan proprioseptik; reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar, yaitu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual dan yang paling kecil kontribusinya adalah proprioseptik.
Dalam kondisi fisiologis/normal, informasi yang tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler, visual dan proprioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan, jika semuanya dalam keadaan sinkron dan wajar, akan diproses lebih lanjut. Respons yang muncul berupa penyesuaian otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak.
Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. Jika fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis, atau ada rangsang gerakan yang aneh atau berlebihan, maka proses pengolahan informasi akan terganggu, akibatnya muncul gejala vertigo dan gejala otonom; di samping itu, respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal yang dapat berupa nistagmus, unsteadiness, ataksia saat berdiri/ berjalan dan gejala lainnya (Tarwoto, dkk. (2007).

G.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
Meliputi uji tes keberadaan bakteri melalui laboratorium, sedangkan untuk pemeriksaan diagnostik yang penting untuk dilakukan pada klien dengan kasus vertigo antara lain:
1.      Pemeriksaan fisik
a.       Pemeriksaan mata
b.      Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh
c.       Pemeriksaan neurologik
d.      Pemeriksaan otologik
e.       Pemeriksaan fisik umum
2.      Pemeriksaan khusus
a.       ENG
b.      Audiometri dan BAEP
c.       Psikiatrik
3.      Pemeriksaan tambahan
a.       Radiologik dan Imaging
b.      EEG, EMG

H.    KOMPLIKASI
1.      Cidera fisik : Pasien dengan vertigo ditandai dengan kehilangan keseimbangan akibat terganggunya saraf VIII (Vestibularis), sehingga pasien tidak mampu mempertahankan diri untuk tetap berdiri dan berjalan.
2.      Kelemahan otot : Pasien yang mengalami vertigo seringkali tidak melakukan aktivitas. Mereka lebih sering untuk berbaring atau tiduran, sehingga berbaring yang terlalu lama dan gerak yang terbatas dapat menyebabkan kelemahan otot.

I.       PENATALAKSANAAN
1.      Penatalaksanaan Medis
Beberapa terapi yang dapat diberikan adalah terapi dengan obat-obatan seperti :
a.       Anti kolinergik
1).    Sulfas Atropin : 0,4 mg/im
2).    Scopolamin : 0,6 mg IV bisa diulang tiap 3 jam
b.      Simpatomimetika : Epidame 1,5 mg IV bisa diulang tiap 30 menit
c.       Menghambat aktivitas nukleus vestibuler
d.      Golongan antihistamin. Golongan ini, yang menghambat aktivitas nukleus vestibularis adalah : Diphenhidramin: 1,5 mg/im/oral bisa diulang tiap 2 jam dan Dimenhidrinat: 50-100 mg/ 6 jam.
Jika terapi di atas tidak dapat mengatasi kelainan yang diderita dianjurkan untuk terapi bedah. Terapi menurut (Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004: 48) Terdiri dari :
a.       Terapi kausal
b.      Terapi simtomatik
c.       Terapi rehabilitatif
2.      Penatalaksanaan Keperawatan
a.       Karena gerakan kepala memperhebat vertigo, pasien harus dibiarkan berbaring diam dalam kamar gelap selama 1-2 hari pertama.
b.      Fiksasi visual cenderung menghambat nistagmus dan mengurangi perasaan subyektif vertigo pada pasien dengan gangguan vestibular perifer, misalnya neuronitis vestibularis. Pasien dapat merasakan bahwa dengan memfiksir pandangan mata pada suatu obyek yang dekat, misalnya sebuah gambar atau jari yang direntangkan ke depan, temyata lebih enak daripada berbaring dengan kedua mata ditutup.
c.       Karena aktivitas intelektual atau konsentrasi mental dapat memudahkan terjadinya ver­tigo, maka rasa tidak enak dapat diperkecil dengan relaksasi mental disertai fiksasi visual yang kuat.
d.      Bila mual dan muntah berat, cairan intravena harus diberikan untuk mencegah dehidrasi.
e.       Bila vertigo tidak hilang. Banyak pasien dengan gangguan vestibular perifer akut yang belum dapat memperoleh perbaikan dramatis pada hari pertama atau kedua. Pasien merasa sakit berat dan sangat takut mendapat serangan berikutnya. Sisi penting dari terapi pada kondisi ini adalah pernyataan yang meyakinkan pasien bahwa neuronitis vestibularis dan sebagian besar gangguan vestibular akut lainnya adalah jinak dan dapat sembuh. Dokter harus menjelaskan bahwa kemampuan otak untuk beradaptasi akan membuat vertigo menghilang setelah beberapa hari.
f.       Latihan vestibular dapat dimulai beberapa hari setelah gejala akut mereda. Latihan ini untuk rnemperkuat mekanisme kompensasi sistem saraf pusat untuk gangguan vestibu­lar akut.
ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT VERTIGO
A.    PENGKAJIAN
1.      Aktivitas / Istirahat
ü  Letih, lemah, malaise
ü  Keterbatasan gerak
ü  Ketegangan mata, kesulitan membaca
ü  Insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala
ü  Sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas (kerja) atau karena perubahan cuaca.
2.      Sirkulasi
ü  Riwayat hypertensi
ü  Denyutan vaskuler, misal daerah temporal
ü  Pucat, wajah tampak kemerahan.
3.      Integritas Ego
ü  Faktor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu
ü  Perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan depresi
ü  Kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala
ü  Mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik)
4.      Makanan dan cairan
ü  Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat, bawang, keju, alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak, jeruk, saus, hotdog, MSG (pada migrain).
ü  Mual/muntah, anoreksia (selama nyeri)
ü  Penurunan berat badan.
5.      Neurosensoris
ü  Pening, disorientasi (selama sakit kepala)
ü  Riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke.
ü  Aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus.
ü  Perubahan visual, sensitif terhadap cahaya/suara yang keras, epitaksis.
ü  Parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore
ü  Perubahan pada pola bicara/pola piker
ü  Mudah terangsang, peka terhadap stimulus.
ü  Penurunan refleks tendon dalam
ü  Papiledema.
6.      Nyeri/ kenyamanan
ü  Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal migrain, ketegangan otot, cluster, tumor otak, pascatrauma, sinusitis.
ü  Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah
ü  Fokus menyempit
ü  Fokus pada diri sndiri
ü  Respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah.
ü  Otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.
7.      Keamanan
ü  Riwayat alergi atau reaksi alergi
ü  Demam (sakit kepala)
ü  Gangguan cara berjalan, parastesia, paralisis
ü  Drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus)
8.      Interaksi social
ü  Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang berhubungan dengan penyakit.
9.      Penyuluhan / pembelajaran
ü  Riwayat hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga
ü  Penggunaan alcohol/obat lain termasuk kafein. Kontrasepsi oral/hormone, menopause.

B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf, vasospressor, peningkatan intrakranial ditandai dengan menyatakan nyeri yang dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi, perubahan pola tidur, gelisah.
2.      Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.
3.      Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi dan kurang mengingat ditandai oleh memintanya informasi, ketidak-adekuatannya mengikuti instruksi.

C.     INTERVENSI KEPERAWATAN
1.      Nyeri (akut/kronis) berhubungan dengan stress dan ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf, vasospasme, peningkatan intrakranial ditandai dengan menyatakan nyeri yang dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi, perubahan pola tidur, gelisah.
Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang
Kriteria hasil :
ü  Klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang
ü  Tanda-tanda vital normal
ü  Pasien tampak tenang dan rileks
Intervensi/Implementasi
1).    Pantau tanda-tanda vital, intensitas/skala nyeri
Rasional : Mengenal dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan.
2).    Anjurkan klien istirahat ditempat tidur
Rasional : istirahat untuk mengurangi intesitas nyeri
3).    Atur posisi pasien senyaman mungkin
Rasional : posisi yang tepat mengurangi penekanan dan mencegah ketegangan otot serta mengurangi nyeri.
4).    Ajarkan teknik relaksasi dan napas dalam
Rasional : relaksasi mengurangi ketegangan dan membuat perasaan lebih nyaman
5).    Kolaborasi untuk pemberian analgetik.
Rasional : analgetik berguna untuk mengurangi nyeri sehingga pasien menjadi lebih nyaman.
2.      Koping individual tak efektif berhubungan dengan ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.
Tujuan : koping individu menjadi lebih adekuat
Kriteria Hasil :
ü  Mengidentifikasi prilaku yang tidak efektif
ü  Mengungkapkan kesadaran tentang kemampuan koping yang di miliki
ü  Menunjukkan perubahan gaya hidup yang diperlukan atau situasi yang tepat.
Intervensi/Implementasi
1).    Kaji kapasitas fisiologis yang bersifat umum.
Rasional : Mengenal sejauh dan mengidentifikasi penyimpangan fungsi fisiologis tubuh dan memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan
2).    Sarankan klien untuk mengekspresikan perasaannya.
Rasional : klien akan merasakan kelegaan setelah mengungkapkan segala perasaannya dan menjadi lebih tenang
3).    Berikan informasi mengenai penyebab sakit kepala, penenangan dan hasil yang diharapkan.
Rasional : agar klien mengetahui kondisi dan pengobatan yang diterimanya, dan memberikan klien harapan dan semangat untuk pulih.
4).    Dekati pasien dengan ramah dan penuh perhatian, ambil keuntungan dari kegiatan yang dapat diajarkan.
Rasional : membuat klien merasa lebih berarti dan dihargai.
3.      Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi dan kurang mengingat ditandai oleh memintanya informasi, ketidak-adekuatannya mengikuti instruksi.
Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan.
Kriteria Hasil :
ü  Melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan.
ü  Memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen perawatan.
Intervensi / Implementasi :
1).    Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
Rasional : megetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
2).    Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.
Rasional : dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas.
3).    Diskusikan penyebab individual dari sakit kepala bila diketahui.
Rasional : untuk mengurangi kecemasan klien serta menambah pengetahuan klien tetang penyakitnya.
4).    Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan.
Rasional : mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan.
5).    Diskusikan mengenai pentingnya posisi atau letak tubuh yang normal
Rasional : agar klien mampu melakukan dan merubah posisi/letak tubuh yang kurang baik.
6).    Anjurkan pasien untuk selalu memperhatikan sakit kepala yang dialaminya dan faktor-faktor yang berhubungan.
Rasional : dengan memperhatikan faktor yang berhubungan klien dapat mengurangi sakit kepala sendiri dengan tindakan sederhana, seperti berbaring, beristirahat pada saat serangan.

DAFTAR PUSTAKA
Baughman, Diane C.2000. Keperawatan Medikal-Bedah Buku Saku dari Brunner & Suddarth, Jakarta : EGC
Dewanto, George...[et al.].2009. Panduan Praktis Diagnosis & Tata Laksana Penyakit Saraf, Jakarta : EGC
Ikawati, Zullies. 2010. Resep Hidup Sehat, Yogyakarta : Kanisius 
Santosa, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Alih bahasa, Jakarta : Prima Medika
Wilkinson, Judith M. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC, Jakarta : EGC
Doenges, M.E. 2000. Rencana asuhan keperawatan: Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Edisi 3, Jakarta : EGC
Kang L S,. 2004. Pengobatan Vertigo dengan Akupunktur, Jakarta : Cermin Dunia Kedokteran
Price, S.A., & Wilson, L.M. 2006. Patifisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit.Vol.2, Jakarta : EGC
Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia : dari sel ke sistem, Ed: 2, Jakarta : EGC
Smeltzer, S.C., & Bare, B.G. 2002. Buku ajar keperawatan medical-bedah Brunner & Suddarth, vol:3, Jakarta : EGC
Muttaqin, Arif. 2008. Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persyarafan, Jakarta : Salemba Medika
Sanders, Valeria C. Scanlon Tina. 2006. Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi, edisi 3, Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar