Senin, 21 Maret 2016

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HEPATITIS



         
A.      DEFINISI
Hepatitis adalah suatu proses peradangan difus pada jaringan yang dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan serta bahan-bahan kimia (Sujono, 1999).
Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan klinis, biokimia serta seluler yang khas (Smeltzer, 2001).
Hepatitis adalah peradangan pada hati yang mengalami nekrosis berupa bercak difus yang mempengaruhi seluruh sel asinus hati dan merusak arsitekstur hati (Morgan, 2009. Hal 209).
Hepatitis B adalah proses nekroinflamatorik pada hati yang terjadi secara akut disebabkan oleh infeksi VHB (Soewignjo,2008).
Hepatitis B adalah salah satu penyakit menular yang tergolong berbahaya, Penyakit ini disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB) yang menyerang hati dan menyebabkan peradangan hati akut atau menahun (Tambayong, 2000. Hal 145).


           B.      ETIOLOGI
1.      Virus type A, B, C, D, dan E
2.      Alkohol: Menyebabkan alkohol hepatitis dan selanjutnya menjadi alkohol sirosis.
3.      Obat-obatan: Menyebabkan toksik untuk hati, sehingga sering disebut hepatitis toksik dan hepatitis akut.

           C.      TANDA DAN GEJALA
1.      Masa tunas
a.       Virus A : 15-45 hari (rata-rata 25 hari)
b.      Virus B : 40-180 hari (rata-rata 75 hari)
c.       Virus non A dan non B : 15-150 hari (rata-rata 50 hari)
2.      Fase Pre Ikterik: Keluhan umumnya tidak khas. Keluhan yang disebabkan infeksi virus berlangsung sekitar 2-7 hari. Nafsu makan menurun (pertama kali timbul), nausea, vomitus, perut kanan atas (ulu hati) dirasakan sakit. Seluruh badan pegal-pegal terutama di pinggang, bahu dan malaise, lekas capek terutama sore hari, suhu badan meningkat sekitar 39oC berlangsung selama 2-5 hari, pusing, nyeri persendian. Keluhan gatal-gatal mencolok pada hepatitis virus B
3.      Fase Ikterik: Urine berwarna seperti teh pekat, tinja berwarna pucat, penurunan suhu badan disertai dengan bradikardi. Ikterus pada kulit dan sklera yang terus meningkat pada minggu I, kemudian menetap dan baru berkurang setelah 10-14 hari. Kadang-kadang disertai gatal-gatal pasa seluruh badan, rasa lesu dan lekas capai dirasakan selama 1-2 minggu.
4.      Fase penyembuhan: Dimulai saat menghilangnya tanda-tanda ikterus, rasa mual, rasa sakit di ulu hati, disusul bertambahnya nafsu makan, rata-rata 14-15 hari setelah timbulnya masa ikterik. Warna urine tampak normal, penderita mulai merasa segar kembali, namun lemas dan lekas capai.

          D.      PATHWAY


           E.      PATOFISIOLOGI
Inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan-bahan kimia. Unit fungsional dasar dari hepar disebut lobul dan unit ini unik karena memiliki suplai darah sendiri. Sering dengan berkembangnya inflamasi pada hepar, pola normal pada hepar terganggu. Gangguan terhadap suplai darah normal pada sel-sel hepar ini menyebabkan nekrosis dan kerusakan sel-sel hepar.
Setelah lewat masanya, sel-sel hepar yang menjadi rusak dibuang dari tubuh oleh respon sistem imun dan digantikan oleh sel-sel hepar baru yang sehat. Oleh karenanya, sebagian besar klien yang mengalami hepatitis sembuh dengan fungsi hepar normal. Inflamasi pada hepar karena invasi virus akan menyebabkan peningkatan suhu badan dan peregangan kapsula hati yang memicu timbulnya perasaan tidak nyaman pada perut kuadran kanan atas. Hal ini dimanifestasikan dengan adanya rasa mual dan nyeri di ulu hati. Timbulnya ikterus karena kerusakan sel parenkim hati. Walaupun jumlah billirubin yang belum mengalami konjugasi masuk ke dalam hati tetap normal, tetapi karena adanya kerusakan sel hati dan duktuli empedu intrahepatik, maka terjadi kesukaran pengangkutan billirubin tersebut didalam hati. Selain itu juga terjadi kesulitan dalam hal konjugasi.
Akibatnya billirubin tidak sempurna dikeluarkan melalui duktus hepatikus, karena terjadi retensi (akibat kerusakan sel ekskresi) dan regurgitasi pada duktuli, empedu belum mengalami konjugasi (bilirubin indirek), maupun bilirubin yang sudah mengalami konjugasi (bilirubin direk). Jadi ikterus yang timbul disini terutama disebabkan karena kesukaran dalam pengangkutan, konjugasi dan eksresi bilirubin. Tinja mengandung sedikit sterkobilin oleh karena itu tinja tampak pucat (abolis).
Karena bilirubin konjugasi larut dalam air, maka bilirubin dapat dieksresi ke dalam kemih, sehingga menimbulkan bilirubin urine dan kemih berwarna gelap. Peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi dapat disertai peningkatan garam-garam empedu dalam darah yang akan menimbulkan gatal-gatal pada ikterus.

            F.      PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.      Tes fungsi hati: abnormal (4-10 kali dari normal). Catatan: merupakan batasan nilai untuk membedakan hepatitis virus dari non-virus.
2.      AST (SGOT/ALT (SGPT): awalnya meningkat. dapat meningkat 1-2 minggu sebelum ikterik kemudian tampak menurun.
3.      Darah lengkap: SDM menurun sehubungan dengan penurunan hidup SDM (gangguan enzim hati) atau mengakibatkan perdarahan.
4.      Leukopenia: trombositopenia, monositosis, limfosit atipikal, dan sel plasma.
5.      Alkali phosphatase: agak meningkat (kecuali ada kolestasis berat).
6.      Feses: warna tanah liat, steatore (penurunan fungsi hati).
7.      Albumin serum: menurun.
8.      Gula darah: hiperglikemia transien/hipoglikemia (gangguan fungsi hati).
9.      Anti-HAV IgM: positif pada tipe A.
10.  HbsAG: dapat positif (tipe B) atau negstif (tipe A). catatan: merupakan diagnostik sebelum terjadi gejala klinik.
11.  Masa protrombin: mungkin memanjang (disfungsi hati).
12.  Bilirubin serum: di atas 2,5 mg/100 ml (bila di atas 200 mg/ml, prognosis buruk mungkin berhubungan dengan peningkatan nekrosis seluler).
13.  Tes ekskresi BSP: Kadar darah meningkat.
14.  Biopsi hati: menunjukkan diagnosis dan luasnya nekrosis.
15.  Scan hati: membantu dalam perkiraan beratnya kerusakan parenkim.
16.  Urinalisa: peninggian kadar bilirubin: protein/hematuria dapat terjadi.

          G.      KOMPLIKASI
Ensefalopati hepatic terjadi pada kegagalan hati berat yang disebabkan oleh akumulasi amonia serta metabolik toksik merupakan stadium lanjut ensefalopati hepatik. Kerusakan jaringan paremkin hati yang meluas akan menyebabkan sirosis hepatis, penyakit ini lebih banyak ditemukan pada alkoholik.

          H.      PENATALAKSANAAN
Hepatitis akut hanya memberi efek sedikit pada perjalanan penyakit. Pada permulaan penyakit. Secara tradisional dianjurkan diet rendah lemak, tinggi karbohidrat, yang ternyata paling cocok untuk selera pasien yang anoreksia. obat-obatan tambahan seperti vitamin, asam-amino dan obat lipotropik tak diperlukan. Obat kortikosteroid tidak mengubah derajat nekrosis sel hati, tidak mempercepat penyembuhan, ataupun mempertinggi imunisasi hepatitis viral.
Hepatitis kronik tidak dianjurkan untuk istirahat di tempat tidur, aktivitas latihan kebugaran jasmani (physical fitness) dapat dilanjutkan secara bertahap. Tidak ada aturan diet tertentu tetapi alkohol dilarang. Sebelum pemberian terapi perlu dilakukan biopsi hati, adanya hepatitis kronik aktif berat merupakan petunjuk bahwa terapi harus segera diberikan. kasus dengan tingkat penularan tinggi harus dibedakan dari kasus pada stadium integrasi yang relatif noninfeksius; karena itu perlu diperiksa status HbeAg, antiHBe dan DNA VHB. Pada kasus hepatitis karena obat atau toksin dan idiosinkrasi metabolik dapat diberikan cholestyramine untuk mengatasi pruritus yang hebat. Terapi-terapi lainnya hanya bersifat suportif.

ASUHAN KEPERAWATAN HEPATITIS

A.    IDENTITAS KLIEN
B.     IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB
C.     RIWAYAT KEPERAWATAN MASA LALU
Penyakit yang pernah diderita: Hepatitis?
Kebiasaan buruk: Miras, merokok, jajan sembarang tempat?
Penyakit keturunan: ?
Operasi: hati?
D.    RIWAYAT KEPERAWATAN SEKARANG
Keluhan utama: Lemas, pusing?
E.     PENGKAJIAN PERPOLA KESEHATAN
1.      Persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
Apakah klien tahu tentang penyakitnya?
Apa yang dilakukan jika rasa sakitnya timbul?
Apakah pasien tahu penyebab dari rasa sakitnya?
Tanda dan gejala apa yang sering muncul jika terjadi rasa sakit?
2.      Nutrisi metabolik
Apakah klien merasa mual/muntah?
Apakah klien mengalami anoreksia?
Makan/minum: frekuensi, porsi, jenis, voleme?
3.      Eliminasi
Apakah BAB/BAK teratur, frekuensi, warna, konsistensi, keluhan nyeri?
4.      Aktivitas dan latihan
Apakah memerlukan bantuan saat beraktivitas (mandiri, sebagian, total)?
Apakah pada saat beraktivitas sesak, palpitasi, kelemahan, cepat lelah?
5.      Tidur dan istirahat
Apakah tidur klien terganggu?
Berapa lama, kualitas tidur (siang siang dan/malam ?
Kebiasaan sebelum tidur?
6.      Kognitif dan persepsi sensori
Apakah mengalami nyeri (PQRST)?
Keluhan gangguan pancaindera?
7.      Persepsi dan konsep diri
Bagaimana pandangan pasien dengan dirinya terkait dengan penyakitnya?
8.      Peran dan hubungan dengan sesama
Bagaimana hubungan dengan orang lain (teman, keluarga, perawat, dan dokter)?
Apakah merasa pekerjaan terganggu, siapa yang menggantikan?
9.      Reproduksi dan seksualitas
Apakah ada gangguan hubungan seksual klien (mestruasi teratur? Impotensi?)?
10.  Mekanisme koping dan toleransi terhadap stres
Bagaimana menghadapi masalah?
Apakah klien stres dengan penyakitnya?
Bagaimana klien mengatasinya?
Siapa yang biasa membantu mengatasi/mencari solusi?
11.  Nilai dan kepercayaan
Sebelum sakit
Bagaimana kebiasaan dalam menjalankan ajaran Agama?
Saat sakit
Apakah ada tindakan medis yang bertentangan kepercayaan?
Apakah penyakit yang dialami mengganggu dalam menjalankan ajaran Agama yang dianut?
F.      PEMERIKSAAN FISIK
  1. Keadaan umum           :
  2. Kesadaran                   :
  3. Tanda-tanda vital        :
  4. Status gizi                   :
  5. Pemeriksaan Head to toe
a.        Kulit, rambut, dan kuku
1)       Inspeksi warna kulit, jaringan parut, lesi dan vaskularisasi
2)       Inspeksi dan palpasi kuku tentang warna, bentuk, dan catat adanya abnormalitas
3)       Palasi kulit untuk mengetahui suhu, turgor, tekstur (halus/kasar)edema, dan massa
b.        Kepala:
1)         Inspeksi kesimetrisan muka, tengkorak, kulit kepala (lesi, massa)
2)         Palpasi dengan cara merotasi dengan lembut ujung jari ke bawah dari tengah garis kepala ke samping. Untuk mengetahui adanya bentuk kepala, pembengkakan, massa, dan nyeri tekan, kekuatan akar rambut.
c.        Mata
1)         Inspeksi kelopak mata, perhatikan bentuk dan kesimetrisannya
2)         Inspeksi daerah orbital adanya edema, kemerahan, atau jaringan lunak dibawah bidang orbital.
3)         Inspeksi konjungtiva dan sklera dengan menarik/ membuka kelopak mata. Perhatikan warna, edema, dan lesi.
4)         Inspeksi kornea (kejernihan dan tekstur kornea) dengan berdiri disamping klien dengan menggunakan sinar cahaya tidak langsung.
5)         Inspeksi pupil terhadap sinar cahaya langsung dan tidak langsung. Amati kesimetrisan, ukuran, bentuk, dan reflek terhadap cahaya (nervus okulomotorius)
6)         Inspeksi iris terhadap bentuk dan warna
7)         Inspeksi dan palpasi kelenjar lakrimal adanya pembengkakakn dan kemerahan.
8)         Uji ketajaman penglihatan (visus), dengan menggunakan snellen card/jari tangan pemeriksa. Pemeriksa berdiri 6 M dari pasien (nervus optikus).
9)         Uji lapang pandang dengan pasien berdiri atau duduk 60 cm dari pemeriksa.
10)     Uji gerakan mata pada delapan arah pandangan dengan menggerakkan jari pemeriksa secara perlahan (nervus okulomotorius, nervus trokhlearis, nervus abduscen)
d.       Hidung
1)         Inspeksi hidung eksterna dengan melihat bentuk, kesimetrisan, adanya deformitas atau lesi, dan cairan yang keluar.
2)         Palpasi lembut batang dan jaringan lunak hudung adanya nyeri, massa dan nyeri, massa dan penyipangan bentuk, serta palpasi sinus-sinus hidung.
3)         Periksa patensi neres dengan meletakkan jari di depan lubang hidung dan minta pasien bernapas melalui hidung. Bandingkan antara neres kanan dan kiri, kaji kemampuan pasien membau (nervus olfaktorius).
4)         Masukkan spekulum hidung dengan minta pasien mengangkat kepala kebelakang. Dengan bantuan penlight amati warna, lesi, cairan, massa, dan pembengkakan.
e.        Telinga
1)         Inspeksi kesimetrisan dan letak telinga
2)         Inspeksi telinga luar, ukuran, bentuk, warna, dan adanya lesi.
3)         Palpasi kartilago telinga untuk mengetahui jaringan lunak. Tekan tragus kedalam dan tulang telinga ke bawah daun telinga (bila peradangan akan nyeri).
4)         Palpasi tulang telinga (prosesus mastoideus)
5)         Tarik daun teinga secara perlahan ke atas dan ke belakang. Pada anak-anak daun telinga ditarik ke bawah, kemudian amati liang telinga adanya kotoran, serumen, cairan, dan peradangan.
6)         Uji fungsi pendengaran dengan menggunakan arloji, suara/ bisikan dan garpu tala (tes Webber, Rinne, Swabacch). (nervus auditorius).
f.         Mulut dan faring
1)         Inspeksi warna dan mukosa bibir, lesi, dan kelainan koninetal
2)         Minta pasien membuka mulut, jika pasien tidak sadar bantu dengan sudup lidah. Inpeksi keberihan jumlah, dan adanya caries.
3)         Minta pasien buka mulut, inpeksi lidah akan kesimetrisan, warna, mukosa, lesi, gerakan lidah (nervus hipoglosus)
4)         Inspeksi faring terhadap warna, lesi, peradangan tonsil
5)         Melakukan pemeriksaan pembedaan rasa pada ujung lidah (nervus fasialis)
6)         Meminta pasien menelan dan membedakan rasa pada pangkal lidah (nervus glosofaringeal).
7)         Menguji sensasi faring (berkata ”ah”). (nervus vagus).
g.        Leher
1)         Inspeksi bentuk leher, kesimetrisan, warna kulit, adanya pembengkakakn, jaringan parut atau massa (muskulus sternokleidomastoideus)
2)         Inspeksi gerakan leher ke kanan dan ke kiri (nervus aksesorius)
3)         Inspeksi kelenjar tiroid dengan minta pasien menelan dan amati gerakan kelenjar tiroid pada takik suprasternal (normalnya tidak dapat dilihat)
4)         Palpasi kelenjar limfe/kelenjar getah bening
5)         Palpasi kelenjar tiroid
h.        Thorak dan tulang belakang
1)         Inspeksi kelainan bentuk thorak (barrel chest, pigeon chest, funnel chest).
2)         Inspeksi kelainan bentuk tulang belakang (skoliasis, kifosis, lordosis).
3)         Palpasi adanya krepitus pada kosta
4)         Khusus pasien wanita dilakukan pemeriksaan inspeksi payudara: bentuk, ukuran.
i.          Paru posterior, lateral, anterior
1)         Inspeksi kesimetrisan paru
2)         Palpasi (taktil fremitus) dengan meminta pasien menebutkan angka atau huruf yang bergetar (contoh 777). Bandingkan paru kanan dan kiri.
3)         Palpasi pengembangan paru dengan meletakkankedua ibu jari tangan ke prosesus xifoideus dan minta pasien bernapas  panjang. Ukur pergeseran kedua ibu jari.
4)         Perkusi dari puncak paru ke bawah (supraskapularis/3-4 jari dari pundak sampai dengan torakal 10). Catat suara perkusi: sonor/hipersonor/redup.
5)         Auskultasi bunyi paru saat inspirasi dan akspirasi (vesikuler, bronhovesikuler, bronchial, tracheal; suara abnormal: whezzing, ronchi, krekles.
j.          Jantung dan pembuluh darah
1)         Inspeksi titik impuls maksimal, denyutan apical.
2)         Palpasi area aorta pada interkosta ke-2 kanan, pulmonal pada interkosta ke-2 kiri, dan pindah jari-jari ke interkosta 3, dan 4 kiri daerah trikuspidalis, dan mitral pada interkosta 5 kiri. Kemudian pindah jari dari mitral 5-7 cm ke garis midklavikula kiri (denyut apkal).
3)         Perkusi untuk mengetahui batas jantung (atas-bawah, kanan-kiri).
4)         Auskultasi bunyi jantung I dan II pada 4 titik (tiap katup jantung), dan adanya bunyi jantung tambahan.
5)         Periksa vaskularisasi perifer dengan meraba kekuatan denyut nadi.
k.        Abdomen
1)         Inspeksi dari depan dan samping pasien (adanya pembesaran, datar, cekung, kebersihan umbilikus)
2)         Auskultasi 4 kuadran (peristaltik usus diukur dalam 1 menit, bising usus)
3)         Palpasi: epigastrium, lien, hepar, ginjal, dan suprapubik.
4)         Perkusi: 4 kuadran (timpani, hipertimpani, pekak)
5)         Melakukan pemeriksaan turgor kulit abdomen
6)         Mengukur lingkar perut
l.          Genitourinari
1)         Inspeksi anus (kebersihan, lesi,massa,perdarahan) dan lakukan tindakan rectal touche (khusus laki-laki untuk mengetahui pembesaran prostat).
2)         Inspeksi alat kelamin/genitalia wanita: kebersihan, lesi,massa, keputihan, perdarahan, ciran, bau.
3)         Inspeksi alat kelamin/genitalia pria: kebersihan, lesi, massa, cairan, bau, pertumbuhan rambut , bentuk dan ukuran penis, keabnormalan prepusium dan gland penis.
4)         Palpasi skrotum dan testis sudah turun atau belum
m.      Ekstremitas
1)         Inspeksi ekstremitas atas dan bawah: kesimetrisan, lesi, massa
2)         Palpasi: tonus otot, kekuatan otot
3)         Kaji sirkulasi: akral hangat/dingin, warna, capillary reffil time, danedema
4)         Kaji kemampuan pergerakan sendi
5)         Kaji reflek fisiologis: bisep, trisep, patela, arcilles
6)         Kaji reflek patologis: reflek plantar (babinsky)
G.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.      Laboratorium darah?
2.      Laboratorium urin?
3.      Laboratorium feses?
4.      Ct scan?
5.      Biopsi?
H.    TERAPI
Terapi yang didapat: nama obat, dosis, waktu, rute, indikasi?
I.       DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
  1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi, nyeri, cemas, kelelahan otot pernapasan, defornitas dinding dada.
Tujuan: pola napas tidak efektif teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24jam dengan kriteria hasil:
§  Pasien tidak mengeluh pusing
§  Pasien tidak mengeluh sesak napas
§  Pernapasan 12-21x/mnt
§  Tekanan darah 120-129/80-84mmHg
§  Nadi 60-100x/mnt
§  CRT: <3 detik
Intervensi:
1)      Ukur tanda-tanda vital: Tekanan darah, pernapasan, suhu, nadi.
R/mengetahui keadaan pasien
2)      Monitor kemampuan aktivitas pasien
R/mengetahui kemampuan pasien
3)      Anjurkan untuk bedrest
R/mempercepat pemulihan kondisi
4)      Beri posisi semifowler
R/mencukupi kebutuhan oksigen
Bantu aktivitas pasien secara bertahap
R/mengurangi beban kerja pasien
5)      Beri cukup nutrisi sesuai dengan diet
R/mempercepat pemulihan kondisi
6)      Kolaborasi/lanjutkan terapi oksigen
R/mencukupi kebutuhan oksigen
  1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis.
Intervensi:
Tujuan: Nyeri akut teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24jam dengan kriteria hasil:
§   Pasien tidak mengeluh nyeri
§   Pasein tidak mengeluh sesak
§   Pernapasan 12-21x/mnt
§   Tekanan darah 120-129/80-84mmHg
§   Nadi 60-100x/mnt
Intervensi:
1)       Monitor derajat dan kualitas nyeri (PQRST)?
R/mengetahui rasa nyeri yang dirasakan
2)       Ajarkan teknik distraksi/relaksasi
R/mengurangi rasa nyeri
3)       Beri posisi nyaman
R/untuk mengurangi rasa nyeri
4)       Beri posisi semifowler
R/memenuhi kebutuhan oksigen
5)       Kolaborasi/lanjutkan pemberian analgetik; nama, dosis, waktu, cara, indikasi
R/mengurangi rasa nyeri
3.       Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan paparan, tidak familiar dengan sumber informasi.
Tujuan: Pengetahuan pasien bertambah setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x45 menit dengan kriteria hasil:
§  Pasien bisa menjelaskan pengertian
§  Bisa menyebutkan penyebab
§  Bisa menyebutkan tanda dan gejala
§  Bisa menyebutkan perawatan
§  Bisa menyebutkan pencegahan
Intervensi:
1)      Kontrak waktu dengan pasien
R/menetapkan waktu untuk pendidikan kesehatan
2)      Berikan pendidikan kesehatan
R/meningkatkan pengetahuan pasien
3)      Evaluasi pengetahuan pasien
R/mengetahui keberhasilan pendidikan kesehatan
4)      Anjurkan kepada klien untuk melakukan apa yang telah disampaikan dalam pendidikan kesehatan
R/mengingatkan kembali pada pasien
4.      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidakmampuan dalam memasukkan, mencerna, mengabsorbsi makanan karena faktor biologi.
Tujuan: Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi setalah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam dengan kriteria hasil:
§  Pasien tidak mengeluh lemas
§  Makan habis 1 porsi
§  Pasien tidak mual
§  Pasien tidak muntah
§  Berat badan normal/ideal
§  Konjungtiva merah muda
§  Rambut tidak rontok
Intervensi:
1)      Timbang berat badan
R/mengetahui perubahan berat badan klien
2)      Monitor adanya mual dan muntah
R/mengetahui keadaan klien
3)      Monitor tonus otot, rambut merah dan mudah patah
R/mengetahui status kesehatan klien
4)      Monitor intake makanan/minuman
R/mengetahui nutrisi yang dikonsumsi klien
5)      Anjurkan untuk bed rest
R/mempercepat pemulihan kondisi
6)      Anjurkan makan sedikit dan sering
R/supaya tidak mual dan tidak muntah
7)      Anjurkan klien untuk meningkatkan makanan yang mengandung zat besi, Vitamin B12,  tinggi protein, dan Vitamin C
R/mempercepat pemulihan kondisi klien
8)      Kolaborasi/lanjutkan pemberian obat; nama, dosis, waktu, cara, indikasi
R/mempercepat penyembuhan
5.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakkeimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
Tujuan: Intoleransi aktivitas teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24jam dengan kriteria hasil:
§  Pasien tidak mengeluh lemas
§  Pasien tidak mengeluh pusing
§  Pasien tidak mengeluh sesak napas
§  Pernapasan 12-21x/mnt
§  Tekanan darah 120-129/80-84mmHg
§  Nadi 60-100x/mnt
§  CRT: <3 detik
Intervensi:
1)      Ukur tanda-tanda vital: Tekanan darah, pernapasan, suhu, nadi.
R/mengetahui keadaan pasien
2)      Monitor kemampuan aktivitas pasien
R/mengetahui kemampuan pasien
3)      Anjurkan untuk bed rest
R/mempercepat pemulihan kondisi
4)      Beri posisi semi fowler
R/memenuhi kebutuhan oksigen
5)      Bantu aktivitas pasien secara bertahap
R/mengurangi bebar kerja pasien
6)      Beri cukup nutrisi sesuai dngan diet
R/mempercepat pemulihan kondisi
7)      Kolaborasi/lanjutkan terapi oksigen
R/mencukupi kebutuhan oksigen 
6.      Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat, prosedur invasif, pertahanan sekunder tidak adekuat.
Tujuan: Pasien tidak mengalami infeksi setelah dilakuakan tindakan keperawatan selama 2x24jam dengan kriteria hasil:
§  Daerah tusukan infus tidak ada tanda peradangan
§  Hasil laboratorium darah normal(Leukosit, Hb)
Intervensi:
1)      Monitor tanda-tanda peradangan
R/untuk melihat tanda-tanda peradangan
2)      Monitor pemeriksaan Laboratorium darah
R/untuk melihat kandungan darah
3)      Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
R/untuk menghindari inos
4)      Anjurkan untuk bed rest
R/mempercepat pemulihan kondisi
5)      Batasi pengunjung
R/untuk mencegah inos
6)      Rawat luka setiap hari dwengan teknik steril
R/mencegah infeksi
7)      Beri nutrisi tinggi zat besi, vitamin C
R/untuk membantu proses penyembuhan luka
8)      Kolaborasi/lanjutkan pemberian obat antibiotik ; nama, dosis, waktu, cara
R/mempercepat penyembuhan
7.      Hipertermia berhubungan dengan penyakit.
Tujuan: Hipertermia teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam dengan kriteria hasil:
§  Suhu: 36-37°C/axila
§  Pernapasan 12-21x/mnt
§  Tekanan darah 120-129/80-84mmHg
§  Nadi 60-100x/mnt
Intervensi:
1)      Ukur tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, saturasi
R/mengetahui keadaan pasien
2)      Anjurkan untuk banyak minum ± 2 L/hari
R/memenuhi kebutuhan cairan
3)      Anjurkan untuk bed rest
R/mempercepat pemulihan kondisi
4)      Anjurkan untuk menggunakan pakaian yang tipis
R/ mengurangi rasa panas
5)      Beri kompres hangat
R/vasodilatasi pembuluh darah
6)      Kolaborasi/lanjutkan pemberian therapi antipiretik; nama, dosis, waktu, cara, indikasi
R/mempercepat penyembuhan

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito Lynda Jual. 1999. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, Jakarta: EGC
Gallo. 1995. Keperawatan Kritis, Jakarta: EGC
Moectyi, Sjahmien. 1997. Pengaturan Makanan dan Diit untuk Pertumbuhan Penyakit, Jakarta: Gramedia
Price, Sylvia Anderson, Wilson, Lorraine Mc Carty. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, Jakarta: EGC
Smeltzer, suzanna C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Jakarta: EGC
Susan, Martyn Tucker et al. 1998. Standar Perawatan Pasien, Jakarta: EGC
Doengoes,Marlyn E,2000.Rencana Asuhan Keperawatan,Jakarta :EGC
Mansyoer,Arif,2001.Kapita Selekta Kedokteran,Jakarta : EGC
Sjaifoellah Noer,H.M. 1996. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid I, edisi 3, Jakarta: FKUI
Corwin, Elizabeth J. 2000. Handbook of Pathophysiology. Lippincott-Raven Publishers. Philadelphia, U.S.A
Doengoes, Marilynn E. Et al. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta: EGC
Suparman. 1987. Ilmu Penyakit Dalam, jilid I Edisi II. Jakarta: FKUI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar